Ini bukan puisi, bukan juga mahupun kontrovesi
ini cerita benar terjadi
cerita turun temurun di kampung kami
pendek kata bukan hanya kami
banyak kampung lagi masih menanti

Mau apalagi?
mau air bersih tuan,
mau api buat menyuluh malam-malam kami
hanya ada lilin, lampu pam atau minyak tanah
permintaan jelata turun temurun di kampung kami

Selesai buang kertas putih berlipat segi empat di dalam peti
menang pula kampung terabai
syukur saja ada api diberi
cumanya tiap seminggu mesti juga ada bergelap seketika
kalau tak pun berjam-jam sampai pagi
alasan generator biar ‘2nd Hand’ tapi bernilai tinggi
terima kasih daun keladi
empat tahun akan datang, jemputlah ke dewan kampung kami
kami beri sokongan, tepukan dan ‘warm welcome’ paling hangat sekali

Tapi cerita yang satu lagi ini
tak pernah dipeduli
ataukah alasan demi alasan buat membela diri
hingga ketua kampung bersilih ganti
dari moyang hingga tumbuh anak cucu dan cicit sekali
keluh kesah jadi warisan yang menjadi-jadi
dari rumah kayu beratap nipah berganti banglo bata jubin simen berdiri
Lakat juga air yang menguning laksana padi
yah syukur saja air semulajadi
dari dasar tanah alami
bersih suci
namun tetap juga membikin hos berkarat lumut kuning
tetap juga membikin gigi berkilat kuning
tetap juga membikin si perawan jelita kena ejek kawan lelaki
‘omg! rejected, she’s smoking man, look at her teeth bah!
tetap juga membikin baju sekolah putih berwarna kuning
tetap juga membikin mesin penapis air berganti 2 kali seminggu
tetap juga membikin dompet bapakku
lengis, tipis, kempis, timpus
buat mengisi minyak pam air 3 kali sehari
maka’ bandingan harga minyak dengan bil air sangat beza sekali
jangan cakap mau mengorek perigi
hampir setiap ceruk halaman rumah sudah digali
tinggal hanya perigi buta jadi tempat kuburan sampah meninggi
mana-mana pun lubang ditemui
silap-silap terperosok ke dalam tak muncul-muncul lagi (palis-palis)

Komplen sana komplen sini, tapi enda pernah masuk tv
Bebel sana bebel sini, buih saja enda pernah abis mulut ini
siapalah mau dengar kami-kami ini semut kecil yang baik hati
mau menjaga hati pemimpin kami
masuk surat khabar, keluar surat khabar
masuk facebook, keluar facebook
masuk blog, keluar blog
balik kampung, keluar kampung
tiada juga air sampai sini
jadi tetap saja yang kulihat KUNING

Mengkalilah…
beginilah aki ceritanya
Ada permulaan tiada kesudahan
itulah fungsi mulut orang kampung ini
mengadu-ngadu apa yang kurang
untuk keMUDAHAN, bukan keMEWAHAN
untuk kebaikan generasi selepas kami
kalau balik kampung biarlah yang kuning itu hanya tanaman padi
jangan pula sampai 2020
semua sudah jadi orang bandar kuling
desa tiada, kampung tiada
kalau umur panjang menulis lagi cerita begini
jangan pula masih begini
jangankan paip
jangankan air
bayang kereta milik jabatan air tiada kenampakkan
limpas mengkalilah

Diulang sekali lagi
ini bukan puisi, bukan juga kontrovesi
orang tua bilang berkali-kali
kalau mau komplen guna saluran sesuai mecari solusi
saluran apa pula ini?
saluran air bersih putih pula yang kita ingini
ini tidak
di kampung yang kusayangi KULIHAT KUNING semakin menjadi-jadi

(I LOVE MY KAMPUNG!)
Di paparkan di Facebookku-ruangan Notes
Pada 16.03.2010

Advertisements

About mamajnjnj@anangsue

Orang.Kampungan

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s