Salam

Susah juga berblog kalau tiada idea kan. Kalau ikut catatan harian, diari hari-hari memang banyak pula. Tapi kalau tulis hari-hari, bohsan juga aku. Balik-balik cerita pening, muntah, loya, morning sickness, merajuk, sensitif, nekadlah. Gelilah pulak ishh. Jadi cerita serius ini aku kongsikan sama kamurang okeh.

Seterusnya, gambar, cerita dan video ini benar-benar buat aku terkesan. Kredit kepada KANG JUHADI karna, aku salin artikel di bawah ini dari laman kang juhadi, makasih ya. Gambar ini mendapat anugerah WORLD PRESS PHOTO, oleh Frank Fournier, di mana terdapat persoalan kemanusiaan sebab kenapa pakcik jurugambar itu tidak membantu mangsa yang diambil gambarnya, klik di sini ya.

Berikut ini adalah sebuah kisah tentang kematian dari seorang gadis, yang menjadi korban setelah berlangsungnya gempa dahsyat yang berlangsung pada tanggal 13 November 1985, di Armero, Columbia.

Omayra Sanchez adalah seorang gadis cilik berusia 13 tahun yang tinggal di Armero, sebuah kota kecil yang berpenduduk sekitar 31.000 orang saja, yang semula bernama San Lorenzo. Pada tahun 1930, Presiden Rafael Reyes mengganti nama San Lorenzo menjadi Armero, untuk mengenang kepahlawanan José León Armero.

Pada tanggal 13 November 1985, kota Armero yang kecil dan tenang, diguncang oleh letusan gunung berapi Nevado Del Ruiz. Saat meletus, Nevado Del Ruiz menghasilkan guncangan hebat, yang meluluh lantakkan ribuan bangunan di Armero, dan masih ditambah dengan muntahan lahar panas, yang mengalir ke kaki gunung, membakar habis wilayah yang tertimpa aliran panasnya, termasuk kota Armero yang berada di kaki gunung Nevado Del Ruiz.


Malam hari saat bencana terjadi, Omayra yang tinggal bersama keluarganya, terbangun oleh guncangan dahsyat, dan lewat siaran radio mereka mendengar bahwa lahar panas sedang mengalir menuju ke tempat mereka. Ditengah proses evakuasi menuju ke gunung terdekat, nenek Omayra terjatuh kedalam lubang saluran air. Omayra berhenti untuk menolongnya. Malang bagi gadis ini, setelah menolong neneknya, kakinya terjepit reruntuhan bangunan, sehingga tidak dapat bergerak keluar.


Tim penolong yang datang tidak dapat menariknya keluar, dan saat itu air mulai mengalir keluar dari lubang saluran air. Bebarapa puing reruntuhan makin menghimpit Omayra, keluarga dan beberapa penduduk menemaninya sambil menunggu datangnya tim penolong yang membawa peralatan yang dapat mengangkat puing reruntuhan yang menjepit Omayra.

Selama tiga hari tim penolong tidak kunjung datang, air telah bergerak hingga sebatas leher Omayra, selama itu, siang dan malam, orang-orang disekitarnya berusaha menguatkannya dengan menghiburnya, mengajaknya bernyanyi, dan membantunya mengatasi ketakutan.


Pada hari ketiga, masih terjepit reruntuhan dan dalam rendaman air setinggi leher, Omayra mulai berhalusinasi ia berkata bahwa ia terlambat untuk berangkat ke sekolah. Tidak berapa lama kemudia ia meminta orang-orang disekitarnya untuk meninggalkannya agar ia dapat berisitirahat.


Tak lama kemudian ia meninggal akibat gangrene pada lukanya, dan juga hypothermia akibat terendam air selama berhari-hari.


Televisi yang datang untuk meliput gempa, juga menyiarkan liputan mengenai keadaan Omayra, ke seluruh dunia. Gambar yang anda saksikan diambil sebelum ia meninggal, dan dipublikasikan tak lama setelah ia meninggal. Cristina Echandia seorang reporter menyebutkan, untuk seorang anak seusianya, Omayra cukup tabah menghadapi keadaannya, hingga ajal menjemputnya.


Tim penolong datang terlambat akibat adanya serangan gerilyawan M-19 (yang berlangsung pada tanggal 6 November) ke istana dan menyandera beberapa orang diantaranya. Hal ini memperkeruh keadaan, dan membuat pemerintah terlambat mengirimkan perintah untuk mengirimkan bala bantuan ke Armero karena memprioritaskan pada upaya pembebasan sandera. Sebagian rakyat menyalahkan keterlambatan pengambilan keputusan pemerintah, karena aksi pembebasan dan pengiriman tim penolong ke Armero dilakukan oleh departemen yang berbeda.


Hanya sepertiga penduduk yang selamat, sekitar 23.000 orang meninggal akibat bencana tersebut, dan kota Armero kemudian ditutup selamanya oleh pemerintah Columbia, seluruh warga yang selamat diungsikan ke kota-kota lainnya. Armero kini hanyalah tinggal kenangan, hilang bersama tragedy kematian Omayra dan ribuan orang lainnya.

Video berikut memperlihatkan rekaman saat Omayra masih hidup dan dalam keadaan terendam air hingga hampir mencapai mulutnya. Anda dapat menyaksikan ia mengucapkan salam bagi ibunya, dan meminta agar turut mendoakannya. Jutaan pemirsa diseluruh dunia menitikkan air mata menyaksikan rekaman video ini. . .

Sekian untuk kali ini dengan soalan, bagaimana sekiranya kita berada di tempatnya…..

Advertisements

About mamajnjnj@anangsue

Orang.Kampungan

7 responses »

  1. EmanTheHalia berkata:

    ya ALlah.. kesian.. sebak tgk vid die . even x faham. bile dgr je.. die sebut mak die. urm adoi. dah ajal kan.. urm.. simpang2.. sigH~

  2. azmihamin berkata:

    kisah menyayat hati…

  3. PjahFzah berkata:

    kesiannyer..huhu

  4. Azura Ani Salaim berkata:

    sedih, huhuhuhu…. tak dapat bayangkan diri ini berada di tempatnya, sob sob….

  5. Aiman,ya..tak tahu pula saya mak dia pun masih ada masa tu..
    azmi:ya memang menyayat hati
    pzah:kesian kan
    azura:ya tau…

  6. Anna Boleyn berkata:

    sedihnya kak bila tengok video tu.. 😦

  7. Nur berkata:

    sedihnya 😦 mula2 ndak sanggup mau tgk vid tu..tapi hati gatal jg mau tgk 😦

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s